TATO SEBAGAI BENTUK EKSPRESI DIRI
STUDI KASUS STUDIO BASTART TATO PEKANBARU
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses pembentukan makna tato sebagai bentuk eksprei diri melalui interkasi sosial dan bagaimana pendapat individu bertato tentang penilaian masyarakat mengenai tato yang mereka miliki. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap lima informan yang memiliki tato serta observasi di lingkungan studio tato sebagai ruang interaksi awal. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembentukan makna tato berlangsung melalui tiga tahapan utama. Tahap pertama adalah pemaknaan awal subjektif dan personal sebelum individu berhadapan dengan penilaian masyarakat. Tahap kedua adalah tahap interaksi sosial, di mana tato dipahami sebagai simbol sosial yang memunculkan berbagai respon dan penilaian dari masyarakat. Tahap ketiga adalah konsolidasi makna, yaitu ketika tato telah menjadi bagian dari identitas diri yang relatif stabil, dimana individu mampu mengelola cara menampilkan atau menutupi tato sesuai dengan konteks sosial tanpa menghilangkan makna personal yang melakat. Penelitian ini menemukan bahwa tato berfungsi sebagai media ekspresi diri yang tidak hanya dibentuk melaui dorongan personal, tetap diperkuat melalui pengalaman interaksi soaial. Dalam perspektif interaksionisme simbolik, makna tato tidak tetap, melainkan terus dimodifikasi melalui proses interpetasi individu terhadap respon sosial yang diterima. Oleh karena itu, tato dipahami sebagai simbol sosial yang hidup, dinegosiasikan, ataupun dipertahankan sebagai bagian dari ekspresi diri individu.


