SAPPHIC: PEREMPUAN DAN KULTUR KEPEREMPUANAN ATAU LESBIAN DALAM BASE @SAPPHICSFESS

  • Khansa Aqila Zahra Universitas Riau
  • Mita Rosaliza Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Riau1

Abstract

Penelitian mengenai sapphic sebagai identitas perempuan yang memiliki ketertarikan pada sesama jenis dalam ruang digital sering kali berhadapan dengan stigma sosial. Kondisi ini juga dialami oleh pengguna akun base @sapphicsfess di platform X yang memanfaatkan media sosial sebagai ruang aman untuk mengekspresikan diri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemaknaan sapphic dan kultur keperempuanan serta praktik frontstage dan backstage melalui anonimitas dalam ruang digital, penelitian ini juga berupaya memahami bagaimana interaksi digital membentuk pengalaman sosial pengguna dan bagaimana ruang virtual memediasi identitas minoritas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap empat informan dan satu informan kunci yang dipilih secara purposive. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman serta divalidasi melalui triangulasi, peneliti juga melakukan reduksi data dan penarikan kesimpulan secara sistematis. Keabsahan data diperkuat melalui perbandingan antar sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa @sapphicsfess berfungsi sebagai ruang aman digital yang memungkinkan perempuan sapphic mengekspresikan identitas, berbagai pengalaman, dan membangun solidaritas. Kultur keperempuanan tercermin dalam penggunaan simbol identitas dan interaksi yang suportif. Anonimitas menjadi strategi penting yang mencerminkan praktik dramaturgi, yaiutu pemisahan antara frontstage dan backstage. Selain itu, interaksi yang terjadi memperlihatkan adanya dukungan emosional yang kuat antar pengguna. Dengan demikian, @sapphicsfess berperan sebagai counterpublic digital yang membantu pengguna membangun identitas serta melawan stigma dalam masyarakat heteronormatif. Ruang ini menjadi sarana resistensi terhadap norma dominan yang menekan kelompok minoritas. Keberadaannya memperkuat solidaritas dan rasa kebersamaan antar pengguna. Oleh karena itu, media sosial memiliki peran strategis dalam mendukung keberagaman identitas

Published
2026-09-05
How to Cite
Zahra, K. A., & Rosaliza, M. (2026). SAPPHIC: PEREMPUAN DAN KULTUR KEPEREMPUANAN ATAU LESBIAN DALAM BASE @SAPPHICSFESS. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 12(9.A), 26-38. Retrieved from https://www.jurnal.peneliti.net/index.php/JIWP/article/view/14084