Penatalaksanaan Anemia Gravis Pada Pasien HIV- TB
Abstrak
Anemia merupakan salah satu komplikasi hematologis tersering pada pasien dengan infeksi HIV, terlebih pada mereka yang juga mengalami koinfeksi dengan tuberkulosis (TB). Dalam konteks koinfeksi HIV-TB, anemia tidak hanya menjadi manifestasi klinis yang umum, tetapi juga indikator penting dari keparahan penyakit dan prediktor buruk terhadap hasil pengobatan. Anemia adalah berkurangnya kadar hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht) atau jumlah sel darah merah per milimeter kubik. Pada keadaan normal kadar hemoglobin dalam darah berkisar antara 13-18 g/dL untuk laki-laki dan untuk perempuan 12- 16 g/dL. Seseorang yang memiliki kadar Hb rendah disebut anemia yang memiliki gejala lemah, letih, lesu, kepala pusing, nadi cepat, irama jantung tidak teratur, dan telinga berdenging. Penelitian ini menggunakan jenis desain studi kasus retrospektif yang dilakukan di RSUD dr. Hasri Ainun Habibie Gorontalo, pada tanggal 25, Februari, 2025. Dengan berfokus pada pasien yang didiagnosa mengalami infeksi (HIV- TB). Data yang diambil berasal dari rekam medis pasien dengan teknik pengambilan sampel secara acak dari data rekam medik pasien. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis data laboratorium serta data pemberian obat pasien. Penatalaksanaan anemia gravis dalam konteks HIV-TB memerlukan pendekatan terpadu, yang meliputi transfusi darah sebagai intervensi awal, serta terapi suportif berupa suplementasi zat besi, vitamin B kompleks, zinc, dan nutrisi tambahan seperti curcuma dan fibumin. Keberhasilan terapi anemia juga bergantung pada penanganan infeksi utama (HIV dan TB) serta perbaikan status gizi secara menyeluruh. Intervensi dini dan penatalaksanaan komprehensif terhadap anemia pada pasien HIV-TB sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan angka morbiditas serta mortalitas.

